Tottenham Pecahkan Rekor 10 Tahun Milik MU, Setan Merah Justru Terpuruk di Zona Bawah

5 Min Read
Ilustrasi persaingan Tottenham Hotspur dan Manchester United dalam kompetisi Premier League. Gambar dibuat menggunakan AI.

Cetronews.com – Nasib berbeda dialami dua klub besar Inggris, Tottenham Hotspur dan Manchester United, pada lanjutan Premier League 2026/2027. Ketika Tottenham berhasil mencatatkan rekor baru dalam sejarah kompetisi, Manchester United justru semakin terpuruk setelah kembali menelan kekalahan.

Tottenham mencuri perhatian setelah mengalahkan Crystal Palace dengan skor 2-0 di Tottenham Hotspur Stadium, Sabtu (31/10/2026). Kemenangan tersebut tidak hanya menambah tiga poin, tetapi juga mengukir rekor baru dalam sejarah Premier League melalui jumlah tendangan sudut terbanyak dalam satu pertandingan.

Skuad asuhan Roberto De Zerbi menghasilkan 20 tendangan sudut sepanjang pertandingan. Catatan tersebut melewati rekor sebelumnya yang berada di angka 19, yang pernah dicatatkan Manchester United saat menghadapi Burnley pada Oktober 2016.

Tottenham sendiri pernah menyamai rekor tersebut ketika mengalahkan Bournemouth dengan skor 3-2 pada 2022. Namun, kali ini The Lilywhites berhasil melampauinya.

Dua Gol Tottenham Berawal dari Situasi Bola Mati

Dominasi Tottenham atas Crystal Palace terlihat dari statistik pertandingan. Tuan rumah mencatatkan 34 tembakan dan menguasai sekitar 79 persen penguasaan bola.

Keunggulan jumlah pemain turut membantu Tottenham mengendalikan jalannya pertandingan setelah Jean-Philippe Mateta menerima kartu merah langsung pada menit ke-13.

Tekanan yang terus dilancarkan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-25. Archie Gray berhasil membuka keunggulan melalui sundulan setelah memanfaatkan umpan sepak pojok yang dikirim Mohammed Kudus.

Tottenham kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-73. Jan Paul van Hecke menyambar bola hasil situasi sepak pojok yang sebelumnya gagal diamankan dengan sempurna oleh kiper Crystal Palace, Dean Henderson.

Dua gol tersebut memperlihatkan efektivitas Tottenham dalam memanfaatkan bola mati. Jumlah tendangan sudut yang tinggi tidak hanya menjadi catatan statistik, tetapi juga berperan langsung dalam menentukan hasil pertandingan.

Tambahan tiga poin membuat Tottenham mencatatkan tiga kemenangan beruntun di Premier League. Tren positif ini menjadi modal penting bagi De Zerbi untuk menjaga konsistensi tim dalam persaingan musim ini.

Manchester United Justru Terjebak dalam Tren Negatif

Situasi kontras dialami Manchester United. Klub berjuluk Setan Merah tersebut kembali gagal meraih kemenangan setelah kalah 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu (31/10/2026).

Hasil itu memperpanjang catatan tanpa kemenangan Manchester United menjadi sembilan pertandingan berturut-turut di seluruh kompetisi. Rentetan tersebut menjadi periode tanpa kemenangan terpanjang klub sejak 1988.

Padahal, Manchester United sempat memperlihatkan permainan yang cukup menjanjikan pada babak pertama. Mereka mampu menciptakan sejumlah peluang, tetapi gagal mengubahnya menjadi gol.

Situasi berubah setelah Chelsea meningkatkan tekanan pada babak kedua. Morgan Rogers membuka keunggulan tuan rumah, sebelum Cole Palmer menggandakan skor melalui tendangan penalti pada menit ke-64.

Peluang Manchester United untuk mengejar ketertinggalan semakin sulit setelah Lisandro Martinez menerima kartu merah akibat pelanggaran terhadap Wesley Fofana.

Kekalahan ini membuat posisi Michael Carrick semakin menjadi sorotan. Pelatih Manchester United tersebut sebelumnya sudah berada dalam tekanan akibat rangkaian hasil buruk yang dialami timnya.

MU Hanya Berjarak Satu Poin dari Zona Degradasi

Dampak buruk performa Manchester United juga terlihat dalam klasemen sementara Premier League.

Setelah sembilan pertandingan, Setan Merah baru mengumpulkan tujuh poin dan menempati peringkat ke-17. Mereka hanya berjarak satu poin dari zona degradasi.

Situasi tersebut tentu menjadi perhatian serius bagi klub yang memiliki sejarah panjang dan ambisi bersaing di papan atas sepak bola Inggris.

Persoalan Manchester United bukan hanya terletak pada hasil pertandingan, tetapi juga ketidakmampuan menjaga konsistensi permainan. Kegagalan memaksimalkan peluang dan masalah pertahanan kembali terlihat ketika menghadapi Chelsea.

Carrick sendiri mengakui timnya kehilangan kendali setelah kebobolan dan harus bermain dengan sepuluh orang. Meski demikian, ia tetap mengarahkan perhatian pada pertandingan berikutnya.

AS Roma Menanti, Tekanan terhadap Carrick Meningkat

Ujian berikutnya bagi Manchester United sudah menanti di kompetisi Liga Champions. Mereka dijadwalkan menghadapi AS Roma pada Rabu (4/11/2026) dini hari WIB.

Pertandingan tersebut menjadi kesempatan penting bagi Carrick untuk menghentikan tren negatif sekaligus mengembalikan kepercayaan diri para pemain.

Namun, AS Roma datang dengan tantangan tersendiri. Klub Italia itu memiliki modal positif setelah mencatatkan empat kemenangan dan satu hasil imbang dalam lima pertandingan terakhirnya di seluruh kompetisi.

Hasil melawan Roma berpotensi menjadi salah satu penentu arah perjalanan Manchester United dalam beberapa pekan ke depan. Tekanan terhadap Carrick diperkirakan semakin besar apabila tim kembali gagal mendapatkan hasil positif.

Perbedaan kondisi Tottenham dan Manchester United saat ini memperlihatkan betapa cepatnya situasi sebuah klub dapat berubah dalam persaingan sepak bola. Tottenham sedang membangun momentum melalui kemenangan dan efektivitas bola mati, sementara Manchester United masih berjuang menemukan kembali konsistensi permainan. (CN/Didik)

Share This Article