Cetronews.com – Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2026 pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$112 per barel setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dari Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik US$3,19 atau 2,9% menjadi US$112,01 per barel pada pukul 13.11 GMT. Dalam perdagangan sebelumnya, harga Brent sempat mencapai US$112,68 per barel, level tertinggi sejak 18 Mei 2026.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$2,41 atau 2,5% menjadi US$99,56 per barel. Harga WTI sebelumnya sempat menyentuh US$100,09 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi dan munculnya laporan gangguan terhadap aktivitas pelayaran di sekitar Teluk Persia.
Serangan Houthi Tingkatkan Kekhawatiran Pasokan
Serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak.
Pada Rabu (21/10/2026), serangan di sebuah bandara sipil di Dammam dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan lainnya. Serangan pesawat nirawak di sebuah ladang minyak Saudi juga dilaporkan menewaskan dua orang.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengancam fasilitas energi di kawasan yang memiliki peran penting dalam perdagangan minyak internasional.
Pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko gangguan produksi maupun distribusi. Ketika keamanan fasilitas energi dan jalur pengiriman terancam, pelaku pasar cenderung memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan pada masa mendatang.
Kondisi itu dapat mendorong harga naik meskipun gangguan pasokan secara keseluruhan belum tentu terjadi.
Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar
Selain serangan di Arab Saudi, keamanan pelayaran di sekitar Selat Hormuz turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur ini digunakan untuk mengangkut minyak mentah dan produk energi dari sejumlah negara produsen di kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Gangguan terhadap pelayaran di wilayah tersebut berpotensi menghambat pengiriman minyak dan meningkatkan biaya transportasi. Dampaknya dapat dirasakan oleh negara-negara pengimpor energi, khususnya yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Analis PVM Oil Tamas Varga menilai kekhawatiran terhadap serangan kapal di Selat Hormuz dan infrastruktur minyak Arab Saudi masih membayangi pasar.
Menurutnya, laporan mengenai ekspor minyak mentah Timur Tengah yang telah melampaui tingkat sebelum konflik belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut.
Analis Morgan Stanley memperkirakan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mencapai sekitar 17 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Angka itu menunjukkan bahwa aliran ekspor masih berlangsung. Namun, ketidakpastian mengenai keamanan jalur pengiriman dan potensi serangan lanjutan membuat pasar tetap mewaspadai kemungkinan gangguan pasokan.
Saudi Aramco Minta Pegawai Bekerja dari Jarak Jauh
Meningkatnya risiko keamanan juga memengaruhi aktivitas perusahaan energi di Arab Saudi.
Enam sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Saudi Aramco meminta pegawainya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh.
Langkah itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan terhadap sejumlah sasaran di negara tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat juga memerintahkan sejumlah diplomat beserta anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Washington turut menyiapkan penarikan anggota keluarga dari sejumlah misi diplomatik lainnya di Timur Tengah.
Perkembangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap situasi keamanan regional. Meski demikian, kebijakan bekerja dari jarak jauh di kantor pusat perusahaan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kegiatan produksi minyak telah berhenti.
Gangguan Pasokan Juga Terjadi di Libya
Tekanan terhadap pasokan minyak tidak hanya berkaitan dengan situasi di kawasan Teluk.
Di Libya, penutupan katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan Pelabuhan Zawiya dilaporkan menyebabkan penurunan produksi dari kedua ladang tersebut.
Informasi itu disampaikan oleh kepala National Oil Corporation Libya kepada Reuters.
Gangguan produksi di Libya menambah perhatian terhadap ketersediaan minyak global, terutama ketika pasar juga menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Di Amerika Serikat, pemerintah Presiden Donald Trump menawarkan pinjaman pasokan yang setara dengan hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas negara tersebut, yang berjumlah sekitar satu juta barel. Langkah ini ditujukan untuk membantu menghadapi tekanan harga energi dan kelangkaan diesel.
Harga Minyak Masih Dipengaruhi Perkembangan Konflik
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan bergantung pada perkembangan keamanan di Timur Tengah, kelancaran pengiriman, dan kondisi pasokan global.
Jika ancaman terhadap fasilitas energi dan kapal terus meningkat, harga minyak berpotensi tetap bergejolak. Sebaliknya, meredanya konflik dan terjaganya kelancaran ekspor dapat mengurangi tekanan terhadap pasar.
Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, kenaikan harga minyak internasional perlu dicermati karena dapat memengaruhi biaya pengadaan minyak dan bahan bakar. Namun, dampaknya terhadap harga BBM domestik tidak berlangsung secara otomatis karena turut dipengaruhi nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, serta biaya pengolahan dan distribusi.
Lonjakan harga Brent hingga menembus US$112 per barel menjadi sinyal bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor penting dalam perdagangan energi dunia. Pelaku pasar kini mencermati apakah ketegangan yang terjadi akan berkembang menjadi gangguan pasokan yang lebih luas.
