RIYADH – Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, mengalami gangguan besar setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi dari Yaman. Penutupan bandara dan pembatalan penerbangan turut memengaruhi perjalanan udara di kawasan Timur Tengah serta sejumlah rute internasional.
Data perusahaan analisis penerbangan Cirium menunjukkan bahwa hampir seluruh penerbangan terjadwal di bandara tersebut tidak beroperasi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Sementara itu, untuk Senin, 12 Oktober 2026, sekitar 60 persen penerbangan terjadwal diperkirakan batal.
Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak gangguan keamanan terhadap operasional penerbangan sipil di ibu kota Arab Saudi.
Data Pembatalan Penerbangan di Riyadh
Gangguan penerbangan di Bandara Internasional King Khalid terlihat dari tingginya angka pembatalan yang dilaporkan oleh dua sumber analisis penerbangan.
Menurut data Cirium, sebanyak 99,7 persen penerbangan terjadwal di bandara Riyadh dibatalkan pada Minggu. Sementara itu, FlightRadar24 memperkirakan tingkat pembatalan pada Senin mencapai sekitar 78 persen.
Secara nasional, lebih dari sepertiga penerbangan terjadwal di seluruh Arab Saudi juga diperkirakan tidak beroperasi pada Senin tersebut.
Perbedaan angka dari kedua penyedia data dapat dipengaruhi oleh waktu pengamatan dan metode penghitungan. Karena itu, angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi berdasarkan periode pelaporan masing-masing, bukan sebagai angka final yang berlaku untuk seluruh hari.
Bandara King Khalid merupakan salah satu simpul transportasi udara utama Arab Saudi. Gangguan operasional di fasilitas ini berpotensi memengaruhi perjalanan penumpang yang menuju Riyadh, meninggalkan ibu kota, maupun melakukan perjalanan lanjutan melalui jaringan penerbangan internasional.
Otoritas Memperpanjang Penutupan Bandara
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi memperpanjang penghentian operasional Bandara Internasional King Khalid untuk menyelesaikan pemeriksaan dan memastikan keamanan fasilitas serta kesiapan operasionalnya.
Reuters melaporkan pada 12 Oktober bahwa bandara tersebut dijadwalkan tetap ditutup hingga 17 Oktober 2026. Ketentuan ini dapat berubah mengikuti perkembangan keamanan dan keputusan otoritas setempat.
Penutupan bandara menjadi langkah penting dalam situasi ketika keselamatan penumpang, awak pesawat, dan petugas harus menjadi prioritas.
Namun, penghentian penerbangan juga menimbulkan konsekuensi bagi penumpang. Perjalanan bisnis, kunjungan keluarga, kegiatan diplomatik, dan penerbangan lanjutan dapat terganggu apabila jadwal keberangkatan maupun kedatangan berubah.
Sejumlah Maskapai Menghentikan Penerbangan
Gangguan keamanan turut mendorong maskapai internasional menyesuaikan operasional mereka.
Lufthansa Group membatalkan penerbangan menuju Riyadh hingga 16 Oktober 2026 berdasarkan informasi yang dilaporkan pada 12 Oktober. Sementara itu, Air France-KLM memperpanjang penangguhan layanan dari dan menuju ibu kota Arab Saudi hingga akhir Oktober.
Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) juga meminta maskapai AS meningkatkan kewaspadaan ketika terbang menuju atau melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa dampak gangguan keamanan tidak terbatas pada bandara yang menjadi sasaran serangan. Perubahan rute, pembatalan penerbangan, dan penjadwalan ulang dapat memengaruhi jaringan penerbangan yang menghubungkan Eropa, Asia, serta Timur Tengah.
Meski demikian, jadwal operasional setiap maskapai dapat berbeda. Penumpang perlu memeriksa informasi berdasarkan nomor penerbangan dan tanggal keberangkatan masing-masing.
Dampak bagi Penumpang dan Perjalanan Internasional
Penutupan bandara dapat menyebabkan penumpang menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari pembatalan tiket hingga terputusnya koneksi dengan penerbangan lanjutan.
Bagi penumpang yang memiliki perjalanan menuju Riyadh dalam waktu dekat, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko ketidakpastian perjalanan:
- Periksa status penerbangan. Gunakan situs atau aplikasi resmi maskapai untuk memastikan apakah penerbangan masih beroperasi.
- Hubungi maskapai sebelum menuju bandara. Pastikan informasi keberangkatan terbaru dan tanyakan pilihan penjadwalan ulang apabila penerbangan dibatalkan.
- Periksa tiket lanjutan. Penumpang dengan penerbangan sambungan perlu memastikan perubahan pada satu segmen tidak menyebabkan kehilangan koneksi berikutnya.
- Pantau pengumuman resmi. Informasi pembukaan kembali bandara dan pembatasan wilayah udara harus mengacu pada otoritas penerbangan yang berwenang.
- Periksa ketentuan akomodasi dan pengembalian dana. Hak penumpang bergantung pada ketentuan tiket, kebijakan maskapai, dan aturan yang berlaku.
Langkah tersebut terutama penting bagi penumpang yang melakukan perjalanan internasional dengan jadwal ketat atau memiliki beberapa penerbangan sambungan.
Serangan Memicu Kekhawatiran terhadap Keselamatan Penerbangan
Gangguan di Riyadh terjadi setelah serangkaian serangan mematikan di Arab Saudi. Laporan pada 12 Oktober menyebut serangan pada akhir pekan sebelumnya menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan lain pada Minggu dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai hampir selusin orang.
Kelompok Houthi mengklaim keterlibatan dalam serangkaian serangan tersebut. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran mengenai keselamatan fasilitas penerbangan sipil di kawasan tersebut.
Dalam situasi konflik, keselamatan penerbangan tidak hanya bergantung pada kondisi fisik bandara. Penilaian risiko wilayah udara, kemungkinan ancaman lanjutan, koordinasi keamanan, serta kesiapan operasional juga menjadi pertimbangan penting bagi otoritas dan maskapai.
Karena itu, keputusan untuk menghentikan atau melanjutkan penerbangan perlu mempertimbangkan perkembangan situasi secara menyeluruh, bukan hanya ketersediaan landasan pacu dan fasilitas bandara.
Menteri Energi Arab Saudi Serukan Respons Serius
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyerukan respons yang sepadan dengan tingkat keseriusan situasi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi energi di Riyadh pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah serangkaian serangan menargetkan bandara dan wilayah lain di Arab Saudi.
Perkembangan keamanan tersebut juga menambah tantangan bagi aktivitas ekonomi dan penyelenggaraan kegiatan internasional di negara tersebut.
Namun, langkah lanjutan yang akan ditempuh pemerintah Arab Saudi maupun dampaknya terhadap operasional penerbangan perlu terus dipantau melalui pernyataan resmi dan laporan terbaru.
Kapan Bandara Riyadh Kembali Beroperasi?
Berdasarkan laporan Reuters pada 12 Oktober 2026, penutupan Bandara Internasional King Khalid diperpanjang hingga 17 Oktober untuk memastikan keamanan dan kesiapan operasional.
Tanggal tersebut merupakan informasi berdasarkan laporan pada waktu itu, bukan jaminan bahwa bandara akan kembali beroperasi tepat pada hari tersebut. Penumpang sebaiknya tidak menganggap jadwal penerbangan otomatis kembali normal tanpa konfirmasi dari maskapai dan otoritas bandara.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana gangguan keamanan dapat berdampak luas pada penerbangan sipil. Kepastian jadwal perjalanan akan bergantung pada hasil evaluasi keamanan dan keputusan resmi mengenai pembukaan kembali bandara.
Sumber informasi: Reuters, Channel NewsAsia, serta data pembatalan penerbangan dari Cirium dan FlightRadar24.
