BMKG Gunakan Dry Ice untuk Atasi Kabut Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya

11 Min Read
Pesawat dalam persiapan operasi modifikasi cuaca untuk penanganan kabut asap karhutla. (Foto:BMKG)

CETRONEWS.COM — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan dry ice atau es kering dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi ini diterapkan untuk mengatasi kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan, terutama di wilayah Sumatera Selatan.

Berbeda dari operasi modifikasi cuaca yang bertujuan mendukung pembentukan hujan, penyemaian dry ice kali ini diarahkan untuk memengaruhi lapisan inversi atmosfer. Lapisan tersebut dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap dan polutan menumpuk di wilayah yang terdampak kebakaran.

Dalam siaran pers BMKG pada 20 Oktober 2026, lembaga tersebut menjelaskan bahwa asap pekat dalam kondisi tertentu dapat terperangkap di lapisan atmosfer dekat permukaan hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki atau bahkan lebih tinggi.

Penggunaan dry ice menjadi salah satu pendekatan yang diupayakan untuk membantu melemahkan kondisi atmosfer tersebut. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada keadaan atmosfer dan perlu dinilai melalui pemantauan lapangan.

Apa Itu Dry Ice dan Mengapa Digunakan?

Dry ice merupakan karbon dioksida (CO₂) dalam bentuk padat. Berbeda dengan es yang terbuat dari air, dry ice berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas tanpa melewati fase cair pada tekanan atmosfer normal. Proses ini disebut sublimasi.

Dalam operasi modifikasi cuaca, dry ice disemai dari pesawat pada lapisan atmosfer yang menjadi sasaran intervensi. Menurut penjelasan BMKG, proses tersebut memicu pendinginan yang diharapkan membantu mengubah kondisi kestabilan udara dan melemahkan lapisan inversi.

Lapisan inversi dapat diibaratkan sebagai penghalang yang membatasi pergerakan udara dari bawah ke atas. Ketika kondisi ini berlangsung, asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat bertahan di dekat permukaan, sehingga mengganggu jarak pandang dan menurunkan kualitas udara.

Dengan melemahnya lapisan tersebut, asap diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk bergerak ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi dan terdispersi. Kondisi atmosfer yang berubah juga dapat mendukung proses konveksi dan perkembangan awan apabila faktor cuaca lainnya memungkinkan.

Namun, mekanisme tersebut tidak berarti dry ice dapat menghilangkan seluruh kabut asap secara langsung. Hasilnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kekuatan lapisan inversi, pergerakan udara, kondisi cuaca, serta keberadaan sumber asap yang masih aktif.

Berbeda dari Penyemaian Awan untuk Hujan

Operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice perlu dibedakan dari penyemaian awan yang dilakukan untuk mendukung pembentukan hujan.

Pada penyemaian dry ice dalam penanganan kabut asap, sasaran utamanya adalah lapisan inversi yang menahan asap di dekat permukaan. Sementara itu, penyemaian menggunakan natrium klorida (NaCl) dapat dilakukan ketika terdapat awan potensial yang memenuhi kondisi untuk mendukung pembentukan hujan.

Kedua pendekatan tersebut memiliki tujuan operasional yang berbeda, meskipun dapat menjadi bagian dari rangkaian penanganan karhutla yang saling mendukung.

BMKG menyesuaikan strategi operasi berdasarkan pemantauan atmosfer, perkembangan awan, dan kondisi cuaca setempat. Artinya, bahan semai serta waktu pelaksanaan tidak dapat ditentukan secara seragam untuk setiap wilayah.

Penjelasan ini penting agar masyarakat tidak menganggap setiap penerbangan dalam operasi modifikasi cuaca pasti bertujuan menghasilkan hujan. Dalam situasi tertentu, intervensi diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap.

Operasi Dry Ice di Sumatera Selatan Diperpanjang

Penanganan kabut asap menggunakan dry ice dilakukan di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober 2026. Operasi ini melibatkan BMKG bersama Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan instansi terkait lainnya.

Dalam pembaruan resmi BMKG pada 23 Oktober 2026, operasi tersebut dilaporkan diperpanjang hingga 5 November 2026 dari rencana awal yang berlangsung sampai 25 Oktober.

BMKG mencatat bahwa hingga 22 Oktober, tim telah melaksanakan 18 sorti penyemaian. Rinciannya terdiri atas 14 sorti menggunakan dry ice dan empat sorti menggunakan natrium klorida.

Penyemaian dry ice dipusatkan di sekitar Palembang untuk membantu mengurai lapisan inversi. Sementara itu, penyemaian NaCl dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan awan potensial hujan berdasarkan pemantauan atmosfer dan radar cuaca.

Operasi ini didukung sejumlah pesawat yang dikerahkan oleh TNI Angkatan Udara dan BNPB. Pelaksanaan penerbangan dilakukan secara bergantian sesuai kebutuhan operasional dan kondisi yang dipantau.

Perpanjangan operasi menunjukkan bahwa upaya penanganan dampak asap memerlukan pemantauan berkelanjutan. Perubahan kondisi atmosfer dapat memengaruhi strategi yang digunakan, sehingga pelaksanaan operasi perlu dievaluasi dari waktu ke waktu.

Bagaimana Keberhasilan Operasi Dinilai?

Keberhasilan penggunaan dry ice tidak cukup dinilai hanya dari pelaksanaan penyemaian atau jumlah penerbangan. Perubahan kondisi di wilayah terdampak juga perlu diperiksa melalui indikator yang dapat diukur.

BMKG menyebut peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel halus PM2.5 sebagai parameter penting dalam mengevaluasi dampak intervensi.

Jarak pandang membantu menggambarkan sejauh mana kabut atau partikel di udara mengganggu penglihatan. Adapun PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan.

Meski demikian, perubahan kedua indikator tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa dry ice menjadi satu-satunya penyebab perbaikan. Pergerakan angin, perubahan suhu, kelembapan, hujan, serta aktivitas kebakaran juga dapat memengaruhi kondisi udara.

Karena itu, evaluasi yang baik perlu membandingkan data sebelum dan sesudah operasi, memperhatikan perubahan cuaca, serta mengamati perkembangan sumber kebakaran di wilayah terkait.

BMKG menjelaskan dalam siaran persnya bahwa pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk menilai dampak intervensi terhadap jarak pandang dan kualitas udara.

Bagi masyarakat, hasil pengukuran tersebut lebih informatif daripada sekadar kabar bahwa operasi telah dilaksanakan. Data yang terukur dapat membantu menunjukkan apakah kondisi udara benar-benar membaik dan apakah perbaikan tersebut bertahan.

Mengapa Kabut Asap Dapat Kembali Pekat?

Kabut asap tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang menahan polutan, tetapi juga oleh keberadaan sumber emisi yang terus menghasilkan asap.

Ketika kebakaran masih berlangsung, asap baru dapat terus masuk ke atmosfer. Jika pergerakan udara terbatas, polutan dapat kembali menumpuk di dekat permukaan meskipun sebelumnya terdapat perbaikan jarak pandang.

Sebaliknya, perubahan arah dan kecepatan angin dapat memindahkan asap ke wilayah lain. Hal ini berarti kondisi udara di satu lokasi tidak selalu menggambarkan situasi di seluruh wilayah Sumatera Selatan atau Kalimantan.

Laporan mengenai perubahan jarak pandang di Palembang perlu dibaca sesuai waktu pengamatan dan lokasi yang disebutkan. Kondisi yang membaik pada satu waktu tidak berarti seluruh wilayah terdampak telah bebas dari kabut asap.

Oleh sebab itu, penggunaan dry ice perlu ditempatkan sebagai salah satu upaya pendukung. Penanganan sumber kebakaran melalui pemadaman di darat, patroli, pemantauan titik panas, pencegahan pembakaran lahan, dan penegakan hukum tetap memiliki peran penting.

Pendekatan terpadu diperlukan agar pengurangan dampak asap tidak hanya mengandalkan perubahan kondisi atmosfer, tetapi juga mengendalikan sumber kebakaran yang menghasilkan polutan.

Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan Masyarakat

Kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika konsentrasi partikel halus meningkat. Paparan polusi udara dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk kondisi pada orang yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit tertentu perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Namun, masyarakat dari kelompok lain juga dapat terdampak oleh paparan asap.

Ketika kabut asap kembali pekat, masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara dari instansi resmi. Jika konsentrasi polutan tinggi, kurangi aktivitas berat di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel apabila harus beraktivitas di luar.

Masyarakat juga dapat mengurangi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela ketika kondisi di luar memburuk, selama hal itu tidak menimbulkan masalah ventilasi atau keselamatan lainnya. Apabila muncul sesak napas atau keluhan kesehatan yang berat, segera cari bantuan medis.

Langkah perlindungan tersebut tetap diperlukan selama penanganan karhutla berlangsung. Operasi modifikasi cuaca tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan peringatan kualitas udara atau menganggap lingkungan sudah aman tanpa data pendukung.

Dry Ice Bukan Pengganti Pemadaman Karhutla

Penggunaan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca merupakan salah satu pendekatan untuk membantu mengurangi dampak kabut asap pada kondisi atmosfer tertentu. Metode ini berbeda dari pemadaman api secara langsung di lokasi kebakaran.

Selama sumber api masih ada, potensi munculnya asap baru tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, operasi atmosfer perlu berjalan berdampingan dengan penanganan kebakaran di lapangan dan upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Efektivitas teknologi ini juga harus dinilai berdasarkan data dan hasil pemantauan, bukan hanya berdasarkan harapan atau satu pengamatan sesaat. Perubahan cuaca dan karakteristik kebakaran dapat membuat hasil di satu lokasi berbeda dari lokasi lainnya.

Bagi masyarakat, informasi mengenai pelaksanaan operasi, kondisi kualitas udara, dan perkembangan kebakaran perlu dibaca secara bersamaan. Ketiganya memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai situasi yang sedang berlangsung.

BMKG bersama instansi terkait terus memantau perkembangan atmosfer dan pelaksanaan operasi di Sumatera Selatan. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar penyesuaian strategi untuk membantu mengurangi dampak kabut asap akibat karhutla.

Sumber Berita

Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan keterangan resmi BMKG. Efektivitas operasi modifikasi cuaca bergantung pada kondisi atmosfer dan perlu dievaluasi melalui data pemantauan.

Share This Article